Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Salah satu sosok paling dikenal dan sering memicu perdebatan dalam dunia perwasitan modern, Anthony Taylor, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia perwasitan tingkat elit. Keputusan ini mengakhiri perjalanan karier yang membentang selama lebih dari dua dekade dan mencakup 831 pertandingan profesional di tingkat domestik maupun internasional.
Pria berusia 47 tahun asal Manchester tersebut mengonfirmasi keputusannya menyusul selesainya tugas internasional terakhirnya di Piala Dunia 2026, di mana ia memimpin laga babak 16 besar antara Spanyol dan Portugal.
Sejak dipromosikan ke daftar wasit Select Group Premier League pada tahun 2010, Taylor berkembang menjadi salah satu pengadil lapangan utama bagi PGMOL (Professional Game Match Officials Limited) dan UEFA.
Rekor penampilannya mencatatkan 432 pertandingan Premier League dalam kurun waktu 16 musim berturut-turut. Di kancah domestik Inggris, ia dipercaya memimpin dua Final FA Cup (2017 dan 2020), Final EFL Cup 2015, serta Final Play-off Championship 2018.
Baca juga: 'Waktumu Sudah Habis': Presiden La Liga Javier Tebas Desak Gianni Infantino Mundur
Sementara di panggung internasional, Taylor bertugas selama 14 tahun di daftar FIFA, memimpin laga di dua edisi Piala Dunia (2022 dan 2026), dua Euro (2020 dan 2024), Final UEFA Super Cup 2020, hingga Final UEFA Europa League 2023.
“Menjadi wasit di level elit merupakan suatu kehormatan yang luar biasa, tetapi tekanannya sangat besar dan pengawasannya terus-menerus. Sekaranglah saatnya untuk mundur dan menantikan transisi ke babak selanjutnya dalam karier saya,” kata Taylor, dikutip dari situs resmi Premier League.
“Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya yang terdalam kepada kedua asisten saya, Gary [Beswick] dan Adam [Nunn], rekan-rekan wasit saya, dan semua orang yang terkait dengan olahraga ini atas semua dukungan mereka selama bertahun-tahun. Yang terpenting, saya ingin berterima kasih kepada keluarga dan teman-teman saya atas dukungan mereka yang tak tergoyahkan selama pengorbanan besar yang dituntut oleh karier ini.”
Karier Taylor tidak pernah lepas dari perhatian publik. Di satu sisi, ia dipuji secara luas atas ketenangan dan tindakan cepatnya saat menangani insiden darurat medis Christian Eriksen yang mengalami henti jantung pada EURO 2020 di Kopenhagen.
Di sisi lain, intensitas sepak bola modern menempatkannya di tengah berbagai polemik besar. Momen paling tajam terjadi pasca Final Europa League 2023, ketika manajer Roma saat itu, José Mourinho, mengkonfrontasinya di area parkir stadion, yang berlanjut pada insiden intimidasi oleh suporter di Bandara Budapest.
Baca juga: FIFA Usut Kerusuhan Final Piala Dunia, Pemain Argentina Terancam Sanksi Berat
Ketua Wasit PGMOL, Howard Webb, memberikan penghormatan tinggi atas dedikasi Taylor sepanjang kariernya.
"Anthony telah menjadi pelayan yang luar biasa bagi sepak bola selama bertahun-tahun. Dia secara konsisten membuktikan mengapa dia adalah salah satu pejabat pertandingan terbaik dan paling sukses yang pernah dihasilkan sepak bola Inggris," ungkap Webb.
“Kami berterima kasih atas kontribusinya yang luar biasa bagi olahraga ini dan mendoakan kesuksesan baginya di babak selanjutnya dalam kariernya.”