Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Presiden Asosiasi Sepak Bola Yordania (JFA), Pangeran Ali bin al-Hussein, melayangkan kritik tajam terhadap kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino, dengan menuduh badan sepak bola dunia tersebut melakukan tindakan "pemerasan" berupa penahanan bantuan keuangan apabila federasinya menolak memberikan dukungan politik pada pemilihan ulang mendatang.
Pernyataan keras dari Pangeran Ali, mantan Wakil Presiden FIFA yang pernah menjadi pesaing Infantino dalam pemilihan presiden FIFA 2016, menjadi pukulan telak terbaru bagi kredibilitas Infantino di tengah gejolak politik yang tengah melanda markas besar FIFA di Zurich.
Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui media sosial, Pangeran Ali mengungkapkan bahwa Timnas Yordania hingga kini belum menerima hak dana hadiah sebesar $4,2 juta atas keberhasilan mereka menembus babak final Piala Arab FIFA 2025 di Qatar.
"Kami telah menunggu dana hadiah untuk para pemain kami sejak Desember atas partisipasi di Piala Arab di Qatar, yang merupakan ajang resmi FIFA. Uang yang seharusnya diterima tim kami karena berhasil mencapai babak final belum juga disalurkan, sementara pada saat yang sama FIFA memamerkan berapa miliar dana yang mereka miliki dalam cadangan,” tulis Pangeran Ali.
Baca juga: Lima Tokoh Sepak Bola Afrika Pasang Badan untuk Infantino di Tengah Krisis FIFA
"Sangat jelas bahwa masalah sebenarnya ada pada kepemimpinan. Selama berbulan-bulan, FIFA menolak membantu kami dalam masalah ini—hingga disampaikan secara lisan kepada saya saat Piala Dunia bahwa jika saya mendukung Infantino, itu akan sangat membantu federasi kami."
Pangeran Ali menegaskan bahwa Yordania memegang teguh nilai-nilai etika dan secara tegas menolak memberikan dukungan kepada Infantino. Ia menilai bahwa pengkondisian bantuan operasional dengan imbalan dukungan politik merupakan bentuk pemerasan yang tidak dapat diterima dalam tata kelola olahraga internasional.
“Di Yordania, kami bangga menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Kami tidak mendukungnya sebelumnya dan tentu saja tidak akan mendukungnya sekarang. Tetapi seluruh situasi ini sama dengan pemerasan dan kami menolak untuk menyerah pada hal itu,” tegasnya.
Selain penahanan dana hadiah, Pangeran Ali yang juga menjabat sebagai Kepala Federasi Sepak Bola Asia Barat (WAFF) memaparkan sejumlah beban lain yang dialami federasi dengan anggaran terbatas. Permasalahan tersebut mencakup kendala visa bagi para suporter Yordania serta beban pajak dari pemerintah Amerika Serikat melalui FIFA yang dinilai sangat merugikan bagi tim-tim kontestan.
Tudingan dari Pangeran Ali ini bertepatan dengan krisis internal yang kian meruncing di tubuh FIFA. Sejumlah federasi sepak bola Eropa seperti Inggris, Wales, Swedia, Finlandia, Serbia, dan Yunani secara resmi telah menarik kembali surat dukungan mereka terhadap masa jabatan keempat Infantino. Hal ini terjadi setelah batalnya rencana investasi ekuitas swasta senilai $4,2 miliar yang mendapat penolakan keras dari berbagai pihak.
Baca juga: Serbia, Swedia, dan Wales Tarik Dukungan untuk Infantino, Inggris Siap Menyusul
Kekecewaan terhadap kepemimpinan FIFA juga merambah hingga ke jajaran eksekutif senior. Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafström menggambarkan kegagalan proyek komersial tersebut sebagai rangkaian peristiwa yang menyedihkan, sementara Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA Arsène Wenger secara terbuka menyatakan bahwa pembatalan rencana tersebut sangat krusial demi menjaga independensi lembaga.
Dengan berkembangnya penolakan dari wilayah Asia dan Timur Tengah, langkah Infantino untuk mempertahankan posisinya dipastikan akan menghadapi tantangan terberat sepanjang kariernya menjelang batas waktu pendaftaran kandidat pada November mendatang.