Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) pada Sabtu secara resmi menyatakan telah "kehilangan kepercayaan" terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino menyusul rencana kontroversial untuk menjual saham komersial Piala Dunia kepada investor swasta. UEFA menegaskan bahwa pembatalan proyek tersebut tidak mengakhiri masalah dan menuntut evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan Infantino.
Pernyataan keras dari markas UEFA di Nyon meluncur hanya beberapa jam setelah Infantino terpaksa menarik proposal privatisasi senilai 20 miliar dolar AS akibat penolakan masif dari konfederasi sepak bola global. UEFA menegaskan bahwa "tidak ada opsi yang diabaikan" dalam mengusut tuntas bagaimana skema rahasia ini bisa digagas di tubuh organisasi tertinggi sepak bola dunia tersebut.
UEFA yang dipimpin oleh Aleksander Čeferin mengecam keras kurangnya transparansi di bawah kepemimpinan Infantino. Proposal untuk memisahkan hak komersial Piala Dunia pria dan wanita ke dalam anak perusahaan baru dengan 20 persen saham dijual ke investor ekuitas swasta dinilai sebagai langkah serampangan yang merusak integritas olahraga.
"Kita tidak bisa terus berjalan seperti ini dengan skema-skema rahasia berjangka waktu instan yang dirancang oleh pihak-pihak tak berwajah dan memberikan manfaat yang meragukan bagi sepak bola," tegas UEFA dalam pernyataan resminya pada Sabtu. "Kita harus mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab dan menuntut pertanggungjawaban mereka.
Baca juga: UEFA Sambut Pembatalan Penjualan Saham Piala Dunia FIFA
“Sudah tepat bahwa, dalam beberapa hari dan minggu mendatang, UEFA akan bekerja sama dengan asosiasi-asosiasinya dan dalam kerja sama erat dengan konfederasi-konfederasi lain untuk merenungkan bagaimana hal ini bisa terjadi dan menyusun rencana untuk memastikan hal itu tidak terjadi lagi. Tinjauan tersebut harus menyeluruh dan mendasar. Tidak ada opsi yang boleh diabaikan. Kepemimpinan FIFA saat ini tidak hanya kehilangan kepercayaan UEFA, tetapi juga banyak anggota keluarga sepak bola lainnya.”
Penolakan terhadap skema Infantino mencapai titik puncak setelah 55 negara anggota UEFA sepakat mengancam boikot seluruh kompetisi FIFA. Sikap tegas tersebut langsung diikuti oleh Konfederasi Sepak Bola Kolaborasi Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang secara terbuka menolak rencana tersebut.
Di dalam tubuh FIFA sendiri, krisis politik ini memicu gejolak hebat. Penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, memilih mengundurkan diri sebagai bentuk protes. Sementara itu, Chief Operating Officer FIFA Kevin Lamour melontarkan kritik terbuka dengan menyebut proyek tersebut dijalankan secara sepihak tanpa keterbukaan kepada jajaran staf internal.
Baca juga: FIFA Resmi Batalkan Rencana Jual Saham Piala Dunia Usai Gelombang Protes Global
UEFA mengonfirmasi bahwa dalam beberapa pekan ke depan pihaknya akan bekerja sama dengan asosiasi anggota dan konfederasi benua lainnya untuk merumuskan tata kelola baru agar skema serupa tidak dapat diulang.
Meskipun Infantino telah membatalkan penjualan saham tersebut demi meredam gejolak, otoritas politiknya kini berada di titik terendah selama satu dekade menjabat sebagai Presiden FIFA. Pesan dari benua Eropa dan para pemangku kepentingan sepak bola dunia sangat jelas: perjuangan untuk menuntut akuntabilitas dan merestrukturisasi kepemimpinan FIFA baru saja dimulai.