Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Lima tokoh paling berpengaruh dalam sepak bola Afrika secara terbuka menyatakan dukungan penuh mereka kepada Presiden FIFA Gianni Infantino, di tengah gelombang ketidakpastian yang mengancam masa depannya sebagai pimpinan tertinggi sepak bola dunia. Langkah terkoordinasi ini diambil tepat saat kubu oposisi dari Eropa, Asia, dan Amerika secara terbuka mempertanyakan kepemimpinannya pasca-kegagalan proyek investasi bernilai miliaran dolar.
Guncangan politik di Zurich ini memuncak setelah Infantino terpaksa membatalkan FIFA Forward Enterprise, sebuah rencana kontroversial untuk menghimpun dana sebesar $4,2 miliar dengan menjual porsi hak komersial Piala Dunia mendatang kepada investor ekuitas swasta. Keputusan mundur tersebut memicu penolakan keras dari UEFA, AFC, dan Concacaf, yang secara resmi menyatakan kekecewaan mendalam hingga memicu mosi tidak percaya di tingkat internal.
Di saat konfederasi Eropa dan Amerika menarik dukungan mereka, Afrika justru mengambil momentum untuk memulihkan posisi politik Infantino. Melalui pernyataan resmi jelang pertemuan Komite Eksekutif CAF, lima administrator papan atas benua tersebut menyuarakan loyalitas mereka secara bersamaan.
Baca juga: UEFA Nyatakan Hilang Kepercayaan Terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino
Gerakan ini dipimpin oleh Fouzi Lekjaa, Wakil Presiden CAF sekaligus Ketua Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko. Ia didampingi oleh tiga anggota Dewan FIFA yang sangat berpengaruh: Hany Abo Rida dari Mesir, Hamidou Djibrilla dari Niger, dan Ahmed Yahya dari Mauritania.
Anggota kelima dari koalisi ini adalah Veron Mosengo-Omba, Presiden Federasi Sepak Bola Republik Demokratik Kongo yang juga mantan Sekretaris Jenderal CAF.
Respons cepat dari Afrika mempertegas peran strategis kawasan tersebut dalam lanskap politik sepak bola internasional. Dengan total 54 asosiasi anggota yang memiliki hak suara penuh di Kongres FIFA, Afrika merupakan blok pemilih terbesar dan kerap menjadi penentu utama dalam perebutan kursi kepemimpinan.
Sejak terpilih pada tahun 2016, Infantino telah mengamankan basis dukungannya di Afrika melalui peningkatan dana hibah pembangunan. Lewat skema FIFA Forward, setiap federasi anggota menerima alokasi dana minimal $8 juta dalam setiap siklus empat tahun.
Baca juga: Serbia, Swedia, dan Wales Tarik Dukungan untuk Infantino, Inggris Siap Menyusul
Bagi mayoritas federasi di Afrika yang berjuang dengan keterbatasan anggaran lokal dan minimnya pendapatan hak siar, kucuran dana ini adalah jalur hidup yang sangat krusial.
Di saat asosiasi-asosiasi kaya di Eropa mampu mengambil sikap menentang kebijakan finansial FIFA, federasi di Afrika memiliki ketergantungan yang tinggi pada dana bantuan tersebut untuk membiayai operasional dasar, tim nasional, dan infrastruktur kepemudaan.
Langkah cepat lima tokoh Afrika ini menandai awal dari konsolidasi kekuatan Infantino untuk mempertahankan jabatannya. Meskipun penolakan dari UEFA dan Concacaf menghadirkan ancaman nyata bagi stabilitas FIFA, kontrol atas blok suara Afrika memberi sang presiden daya tawar yang sangat besar.
Pertanyaan utamanya kini adalah apakah dukungan dari lima tokoh kunci ini dapat mengamankan seluruh 54 suara Afrika secara utuh dalam kongres mendatang. Namun satu hal yang pasti: dalam panggung politik sepak bola dunia, Infantino sekali lagi membuktikan bahwa selama Afrika berada di sudutnya, perlawanan belum berakhir.