Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Legenda sepak bola Portugal, Luís Figo, secara terbuka menuntut Presiden FIFA Gianni Infantino untuk segera mengundurkan diri dari jabatannya. Langkah tegas ini diambil usai terungkapnya skandal rahasia FIFA Forward Enterprise, sebuah rencana kontroversial untuk menjual 20 persen saham hak komersial dan tiket Piala Dunia mendatang kepada investor private equity senilai USD 4,2 miliar.
Skandal ini bukan sekadar kegagalan negosiasi bisnis, melainkan ancaman langsung terhadap kedaulatan sepak bola global. Infantino dinilai telah mengorbankan integritas turnamen teragung di dunia demi kepentingan komersial dan ambisi finansial pribadinya.
Dalam kolom tajamnya di The Daily Mail serta pernyataan resmi di platform X, pemenang Ballon d'Or tahun 2000 tersebut menyampaikan kecaman menohok terhadap kepemimpinan Infantino. Figo menegaskan bahwa tindakan sang Presiden FIFA dalam dua pekan terakhir adalah pelanggaran kepercayaan paling parah yang pernah ia saksikan sepanjang kariernya di dunia sepak bola.
"Saya bisa menulis 10.000 kata tentang masalah di FIFA. Namun, solusinya hanya butuh tiga kata: Infantino harus pergi," tegas Figo.
Baca juga: PM Kanada Mark Carney Tegaskan Hilang Kepercayaan pada Gianni Infantino
“Saya telah mencintai sepak bola seumur hidup saya. Saya pernah menjadi pemain profesional selama 20 tahun. Dan percayalah, selama berkecimpung di dunia ini, saya pernah bertemu dengan orang-orang yang tidak bermoral.
“Namun, apa yang terungkap dalam 10 hari terakhir ini merupakan perilaku paling rendah, penuh tipu daya, dan didorong oleh kepentingan pribadi yang pengecut, yang pernah saya saksikan seumur hidup saya.
Figo, yang pernah mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA pada 2015 dan menjabat sebagai penasihat sepak bola UEFA sejak 2017, menyoroti kurangnya transparansi dalam proyek tersebut. Ia menuduh Infantino sengaja menyembunyikan rencana ini dari asosiasi anggota saat kongres berlangsung, lalu mendadak mencoba memaksakan kesepakatan yang menyerahkan aset utama sepak bola internasional ke tangan investor swasta.
Hal yang paling mengejutkan adalah dugaan konflik kepentingan pribadi. Berdasarkan berbagai laporan internal, struktur korporasi baru yang direncanakan tersebut akan menempatkan Infantino sebagai Chief Executive Officer (CEO) dengan estimasi gaji tahunan mencapai USD 30 juta.
"Jika skema ini memang murni untuk kemajuan sepak bola, mengapa tidak jujur sejak awal bahwa Anda akan mendapatkan jabatan berbayar USD 30 juta per tahun di akhir kesepakatan?" tulis Figo. Ia menambahkan bahwa sangat tidak etis ketika seseorang menjual aset utama Piala Dunia, lalu menerima posisi dengan gaji lima kali lipat dari gajinya saat ini.
Pernyataan pedas sang legenda Portugal mencerminkan pemberontakan skala besar yang kini melanda elite sepak bola dunia. Apa yang bermula dari desas-desus ketidakpuasan kini telah berubah menjadi perlawanan terbuka yang menyatukan konfederasi Eropa (UEFA), Concacaf, serta para pimpinan asosiasi nasional terkemuka.
Baca juga: Arsène Wenger Buka Suara Usai Kegagalan Proyek Penjualan Hak Piala Dunia
Infantino sempat menggelar pertemuan darurat di Rabat, Maroko, untuk menenangkan para eksekutif senior setelah Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafström, mengakui adanya "rangkaian peristiwa yang menyedihkan" dan mengonfirmasi bahwa proyek investasi tersebut telah dibatalkan secara permanen. Namun, langkah mundur tersebut dinilai sudah terlambat untuk meredakan kemarahan publik.
Gelombang pengunduran diri pejabat tinggi mulai mengguncang markas FIFA di Zurich. Mantan Presiden U.S. Soccer, Carlos Cordeiro, memilih mundur dari jabatannya sebagai penasihat senior Infantino. Sementara itu, pimpinan Asosiasi Sepak Bola Yordania, Pangeran Ali bin Hussein, secara terbuka menuduh Infantino melakukan pemaksaan di balik layar dan memanfaatkan tekanan finansial terhadap negara-negara anggota.
Bagi Infantino, yang naik ke tampuk kekuasaan pada 2016 dengan janji membersihkan institusi FIFA dari skandal korupsi masa lalu, situasi ini menjadi ironi yang sangat menohok. Alih-alih mengembalikan integritas, para kritikus menilai ia justru memusatkan kekuasaan dan memprioritaskan komersialisasi berlebihan dengan mengorbankan nilai-nilai dasar olahraga.
Baca juga: UEFA Sepakat Boikot Seluruh Kompetisi FIFA Jika Jual Saham Piala Dunia
"Infantino telah merusak martabat jabatan Presiden FIFA yang dulu ia janji untuk junjung tinggi," pungkas Figo. "Dia telah berbohong, menipu, dan mencoba memperkaya diri sendiri atas beban olahraga yang seharusnya ia layani. Sudah terlambat untuk menyelamatkan harga dirinya, tetapi belum terlambat untuk menyelamatkan sepak bola. Dia harus mundur. Sekarang."
Meskipun Infantino masih mengantongi dukungan dari beberapa blok regional, intervensi tegas dari sosok sekelas Luís Figo menjadi titik balik yang krusial. Ketika para legenda lapangan hijau dan pengurus global bersatu menuntut pembongkaran kekuasaan di puncak FIFA, cengkeraman Gianni Infantino terhadap takhta sepak bola dunia kini berada di ujung tanduk.