Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Sejak Sir Alex Ferguson melambaikan tangan di depan Stretford End pada Mei 2013, kursi manajer Manchester United telah menjadi kursi paling panas sekaligus paling beracun di dunia sepak bola.
Selama 13 tahun terakhir, "Teater Impian" telah berubah menjadi "Teater Eksperimen" yang menghabiskan miliaran Poundsterling dan mengubur reputasi deretan pelatih papan atas dunia.
Berikut adalah catatan perjalanan para nakhoda yang mencoba, dan mayoritas gagal, untuk keluar dari bayang-bayang sang legenda Skotlandia.
Dipilih langsung oleh Ferguson sebagai "The Chosen One", Moyes mewarisi tim juara yang secara mengejutkan merosot tajam. Alih-alih melanjutkan dominasi, United justru mencatatkan rekor-rekor negatif yang tak terbayangkan sebelumnya. Moyes hanya bertahan 10 bulan dari kontrak enam tahunnya, sebuah awal dari siklus pemecatan yang tak berujung.
Baca juga: Ruben Amorim Resmi Dipecat Manchester United
"Si Tulip Besi" membawa karakter kuat dan trofi pertama pasca-Fergie (Piala FA 2016). Namun, sepak bola penguasaan bola yang dianggap membosankan oleh publik Old Trafford membuat masa jabatannya berakhir pahit. Van Gaal dipecat hanya beberapa jam setelah mengangkat trofi di Wembley, sebuah keputusan yang hingga kini masih ia sesali secara terbuka.
"The Special One" adalah manajer tersukses secara statistik sejak era Ferguson. Ia mempersembahkan treble mini (Community Shield, Piala Liga, dan Liga Europa) pada musim perdananya. Namun, pola klasik Mourinho, konflik dengan pemain bintang dan suasana ruang ganti yang toksik pada musim ketiga, kembali terulang, membuatnya didepak pada Desember 2018.
Awalnya datang sebagai pelatih sementara, "The Baby-Faced Assassin" membawa kembali kegembiraan dan identitas serangan balik United. Meskipun berhasil finis di posisi kedua dan mencapai final Liga Europa, kegagalan mempersembahkan trofi dan kekalahan memalukan 5-0 dari Liverpool di kandang sendiri mengakhiri era romantismenya.
Baca juga: Era Ruben Amorim di Man Utd: Antara Sihir di Anfield dan Tragedi Grimsby Town
Erik ten Hag sempat memberikan harapan dengan trofi Piala Liga dan Piala FA di dua musim pertamanya. Namun, inkonsistensi di liga membuatnya kehilangan jabatan. Estafet kemudian berpindah ke Ruben Amorim pada akhir 2024. Amorim mencoba merevolusi United dengan formasi tiga bek, namun ia pun harus menyerah pada awal Januari 2026 setelah gagal mengangkat tim dari papan bawah klasemen.
Kini, di awal tahun 2026, Manchester United kembali berada di titik nol. Pencarian akan sosok yang mampu menyamai aura dan otoritas Sir Alex Ferguson tetap menjadi tugas tersulit di jagat raya sepak bola. Pertanyaannya tetap sama: Apakah masalahnya ada pada manajernya, ataukah struktur klub yang memang sudah terlalu rusak untuk diperbaiki?