Gelombang guncangan di sepak bola Italia mencapai puncaknya pada Jumat lalu setelah Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) secara resmi mengumumkan berakhirnya masa jabatan Gennaro Gattuso sebagai pelatih kepala tim nasional. Keputusan ini diambil menyusul kegagalan tragis Azzurri menembus putaran final Piala Dunia 2026, sebuah hasil yang menandai absennya sang juara dunia empat kali tersebut dalam tiga edisi beruntun.

Kepergian Gattuso menggenapi eksodus besar-besaran di hierarki tertinggi sepak bola Italia. Sehari sebelumnya, Presiden FIGC Gabriele Gravina dan koordinator tim nasional Gianluigi Buffon telah lebih dulu meletakkan jabatan mereka sebagai bentuk tanggung jawab moral atas bencana nasional di babak kualifikasi.

Perpisahan Gattuso

Gattuso, yang baru menjabat selama sembilan bulan menggantikan Luciano Spalletti, menyatakan bahwa keputusannya untuk mundur adalah langkah yang diperlukan demi masa depan tim. 

Meski kontraknya sejatinya baru akan berakhir pada Juni mendatang, mantan gelandang legendaris AC Milan itu memilih untuk menyudahi masa baktinya lebih awal.

Baca juga: Baresi Tak Jadikan Gattuso Kambing Hitam di Tengah Krisis Italia

Gattuso juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pemain yang telah menunjukkan dedikasi tinggi, serta kepada para suporter yang terus memberikan dukungan meski dalam periode yang sangat sulit.

"Dengan berat hati, setelah gagal mencapai tujuan yang telah kami tetapkan, saya menganggap masa jabatan saya sebagai pelatih tim nasional telah berakhir," kata Gattuso dalam sebuah pernyataan.

"Jersey Azzurri adalah aset paling berharga dalam sepak bola, oleh karena itu, sudah tepat untuk memfasilitasi penilaian teknis di masa mendatang dengan segera.

"Merupakan suatu kehormatan untuk memimpin tim nasional, dan melakukannya dengan sekelompok pemain yang telah menunjukkan komitmen dan loyalitas kepada jersey ini."

Tragedi di Zenica

Masa kepemimpinan Gattuso sebenarnya sempat memberikan secercah harapan. Setelah mengambil alih tim yang sedang terpuruk pasca-kekalahan dari Norwegia, ia berhasil membawa Italia meraih lima kemenangan beruntun di fase grup. 

Namun, kekalahan telak 4-1 dari Norwegia di laga terakhir grup memaksa Italia menempuh jalur play-off.

Drama sesungguhnya terjadi di final play-off melawan Bosnia dan Herzegovina. Italia sempat unggul lebih dulu, namun kartu merah yang diterima Alessandro Bastoni menjadi titik balik pertandingan. 

Kekalahan lewat adu penalti di Zenica akhirnya menjadi titik nadir bagi ambisi Italia menuju Amerika Utara.

Baca juga: Fabio Capello Tuntut Revolusi Total Setelah Italia Gagal Lolos Piala Dunia

Krisis Kepemimpinan dan Langkah Selanjutnya

Absennya Italia di Piala Dunia 2026—setelah sebelumnya gagal di 2018 dan 2022—telah memicu kemarahan publik dan desakan reformasi total. Dengan mundurnya Gravina, Buffon, dan kini Gattuso, sepak bola Italia kini berada dalam kondisi tanpa pemimpin di level teknis maupun administratif.

Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, telah menyerukan perubahan radikal dalam struktur organisasi federasi. FIGC dijadwalkan akan mengadakan pemilihan umum baru pada 22 Juni mendatang untuk menentukan suksesor Gravina, sementara pencarian pelatih baru untuk memimpin tim di ajang UEFA Nations League juga menjadi prioritas mendesak.

Bagi publik Italia, pengumuman hari Jumat lalu adalah akhir dari babak yang menyakitkan. Kini, pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang salah, melainkan bagaimana cara membangun kembali reruntuhan salah satu kekuatan sepak bola

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!