Al Mubarak Ungkap Guardiola 100 Kali Ancam Tinggalkan di Manchester City
Akhir dari sebuah era yang luar biasa di Stadion Etihad akhirnya terungkap dengan cara yang cukup mengejutkan. Ketua Manchester City, Khaldoon Al Mubarak, baru-baru ini membagikan detail mendalam mengenai masa-masa terakhir Pep Guardiola di klub, mengungkapkan bahwa sang manajer legendaris telah mengancam untuk berhenti sebanyak 100 kali selama dekade kepemimpinannya.
Dalam wawancara eksklusif dengan media internal klub, Al Mubarak menggambarkan dinamika hubungan kerjanya dengan Guardiola, yang telah memenangkan 20 trofi utama bagi The Citizens. Al Mubarak menyebut dirinya tidak hanya sebagai atasan, tetapi juga sebagai "psikiater" pribadi bagi pria asal Spanyol tersebut.
Analogi "Si Penggembala dan Serigala"
Al Mubarak membandingkan ancaman pengunduran diri yang berulang kali dilontarkan Guardiola dengan dongeng klasik Si Penggembala dan Serigala. Selama bertahun-tahun, Guardiola sering kali mengungkapkan keinginannya untuk hengkang di tengah masa-masa sulit atau kelelahan mental, namun Al Mubarak selalu berhasil meyakinkannya untuk bertahan.
"Mau tak mau, selama 10 tahun terakhir ini kami mengalami banyak suka dan duka. Dan di saat-saat sulit, dia pasti sudah menyerah 100 kali," kata Al Mubarak.
Baca juga: Penuh Kenangan dan Koneksi, Guardiola Ucapkan Selamat Tinggal untuk Man City
"Ada cerita seperti yang kalian semua tahu, 'The Boy Who Cried Wolf.' Dalam kasus Pep, ketika dia mengatakan saya menyerah, itu tidak berarti dia benar-benar menyerah. Anda tidak perlu menganggapnya terlalu serius, Anda harus mengelolanya.”
Al Mubarak menjelaskan bahwa ia memiliki pemahaman yang sangat jelas dengan Guardiola. Ia tahu kapan harus membujuk sang manajer untuk kembali dan kapan saatnya untuk membiarkannya pergi.
"Saya selalu memiliki pemahaman yang sangat jelas dengan Pep, karena analogi 'The Boy Who Cried Wolf': setiap kali dia menyerah, saya akan selalu meyakinkannya untuk kembali sampai saat di mana saya tahu itu benar-benar momen nyata ketika Pep benar-benar memutuskan sudah waktunya,” tambahnya.
"Ada momen-momen yang tidak nyata dan dia benar-benar membutuhkan seseorang untuk membawanya kembali. Dan akan selalu ada satu momen di mana itu akan menjadi nyata."
Momen Perpisahan yang "Nyata"
Kali ini, di penghujung musim 2025-26, Al Mubarak menyadari bahwa ancaman itu berbeda. Ketika Guardiola menyampaikan niatnya untuk mengakhiri masa tugas 10 tahunnya di Manchester, Al Mubarak tidak mencoba untuk melawannya.
"Dalam momen ini, dia tahu—dan saya pun tahu bahwa dia tahu—bahwa ini adalah saatnya. Itulah mengapa itu adalah hal yang benar dan natural bagi dia. Saya tidak melawannya sama sekali karena saya tahu ini adalah saat di mana dia benar-benar bersungguh-sungguh," jelas sang ketua.
Baca juga: Fokus Piala Dunia, Rodri Tunda Pembicaraan Kontrak di Man City
Warisan Guardiola
Meski meninggalkan klub setelah musim yang berakhir dengan raihan trofi FA Cup dan Carabao Cup, dampak Guardiola di Inggris tidak akan pernah terlupakan. Al Mubarak bahkan memuji pengaruh taktis Guardiola yang dianggap telah mengubah wajah sepak bola Inggris secara keseluruhan.
"Dia mengubah sepak bola Inggris. Jika Anda melihat bagaimana liga ini berevolusi dan bagaimana sepak bola dimainkan di liga ini dari 10 tahun lalu hingga hari ini, pengaruhnya tidak terbantahkan. Sangat sedikit manajer yang bisa datang dan mengubah bukan hanya sebuah tim, tetapi seluruh liga," tambahnya.
Manchester City kini tengah bersiap menyambut babak baru, dengan mantan asisten Guardiola, Enzo Maresca, menjadi kandidat terkuat untuk mengambil alih kursi panas di Etihad Stadium. Al Mubarak menegaskan bahwa klub tetap memiliki DNA juara dan akan segera mengumumkan sosok manajer terbaik untuk melanjutkan tongkat estafet yang ditinggalkan Guardiola.