Sang Jenderal Kembali: Dick Advocaat Pimpin Curaçao ke Piala Dunia 2026
Federasi Sepak Bola Curaçao (FFK) secara resmi mengonfirmasi kembalinya Dick Advocaat sebagai pelatih kepala tim nasional. Penunjukan ini memastikan pelatih legendaris asal Belanda tersebut akan mencatatkan rekor sebagai manajer tertua dalam sejarah Piala Dunia saat ia memimpin The Little Blue di turnamen musim panas mendatang.
Advocaat, yang kini berusia 78 tahun, akan melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Otto Rehhagel (71 tahun di Piala Dunia 2010). Namun, bagi masyarakat Curaçao, kembalinya "Sang Jenderal Kecil" bukan sekadar soal angka di buku rekor, melainkan penyelesaian dari sebuah misi yang sempat terputus.
Janji yang Tertunda
Perjalanan Advocaat bersama Curaçao adalah salah satu kisah paling mengharukan dalam sepak bola internasional modern. Ia adalah arsitek utama di balik keberhasilan negara pulau tersebut mengamankan tiket Piala Dunia pertama mereka melalui kampanye kualifikasi yang luar biasa tahun lalu.
Baca juga: Rutten Mundur, Buka Pintu Kembalinya Advocaat Sebagai Pelatih Curacao
Namun, hanya tiga bulan setelah perayaan bersejarah tersebut, Advocaat secara mengejutkan mengundurkan diri. Saat itu, ia mengungkapkan bahwa keputusan berat tersebut diambil demi keluarga, menyusul kondisi kesehatan putrinya yang memburuk. Kepergiannya meninggalkan lubang besar di hati para penggemar dan ketidakpastian di dalam skuad.
“Menyusul keputusan pelatih kepala Fred Rutten untuk mengundurkan diri, dewan Federashon Futbòl Kòrsou telah memutuskan, dalam rapat yang diadakan tadi malam, untuk menunjuk Dick Advocaat sebagai pelatih kepala tim nasional Curaçao,” tulis FFK.
“Diskusi antara FFK dan Dick Advocaat mengenai detail lebih lanjut dari penunjukan ini sedang berlangsung.”
Misi di Panggung Dunia
Kembalinya Advocaat sekaligus mengakhiri masa jabatan singkat Fred Rutten yang baru saja mengundurkan diri pada hari Senin. FFK bergerak cepat untuk memulangkan Advocaat, menyadari bahwa tidak ada sosok yang lebih mengenal luar dalam dinamika skuad Curaçao selain mantan pelatih timnas Belanda, PSV Eindhoven, dan Rangers tersebut.
Curaçao, yang diperkuat barisan pemain berpengalaman seperti Juninho Bacuna dan Leandro Bacuna, kini memiliki kembali pemimpin yang memberikan mereka identitas taktis dan mentalitas pemenang. Kehadiran Advocaat di pinggir lapangan dipandang sebagai faktor kunci bagi tim debutan ini untuk menghindari sekadar menjadi "tim pelengkap" di grup yang kompetitif.
“FFK menangani proses ini dengan penuh kehati-hatian, sesuai dengan kesepakatan yang ada dan prinsip-prinsip tata kelola yang baik, dengan tujuan untuk memastikan stabilitas, kejelasan, dan keberlanjutan di sekitar tim nasional,” lanjut pernyataan FFK.
Baca juga: Fred Rutten Pastikan Curacao Bukan Numpang Lewat di Piala Dunia 2026
“Pengumuman lebih lanjut akan menyusul di kemudian hari.”
Panggung Terakhir sang Legenda
Bagi Advocaat, Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada ini kemungkinan besar akan menjadi bab penutup dari karier kepelatihannya yang membentang selama lebih dari empat dekade. Membawa negara kecil dengan populasi sekitar 150.000 jiwa ke panggung dunia adalah pencapaian yang ia sebut sebagai salah satu yang paling membanggakan.
Ini akan menjadi Piala Dunia ketiga bagi Advocaat dengan negara yang berbeda, setelah sebelumnya memimpin Belanda (1994) dan Korea Selatan (2006).
Curaçao dijadwalkan akan melakoni laga persahabatan pemanasan bulan depan melawan Skotlandia dan Aruba. Mereka tergabung dalam Grup E dan akan bermain melawan Ekuador, Jerman, dan Pantai Gading.