Gianluigi Buffon memberikan sinyal kuat mengenai masa depan kepemimpinan di tim nasional Italia pasca kegagalan tragis lolos ke Piala Dunia 2026. Sang Kepala Delegasi menyatakan bahwa ia dan pelatih Gennaro Gattuso akan tetap menjalankan tugas mereka setidaknya hingga Juni mendatang, sebuah langkah yang diyakini untuk memberikan waktu bagi Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) melakukan evaluasi mendalam dan mencari suksesor yang tepat.

Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah Azzurri dipastikan absen dari Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun akibat kekalahan adu penalti 4-1 dari Bosnia-Herzegovina. Meski Presiden FIGC, Gabriele Gravina, telah secara terbuka meminta keduanya untuk bertahan, situasi di internal Coverciano tetap cair di tengah tekanan publik yang menuntut perombakan total.

Tanggung Jawab Moral Hingga Akhir Musim

Setelah pertandingan mengecewakan tersebut, Buffon menekankan bahwa meninggalkan tim di saat titik nadir seperti sekarang bukanlah pilihan yang bijak. Ia memandang periode hingga Juni sebagai masa transisi yang krusial untuk menjaga stabilitas mental para pemain muda.

"Ini adalah momen yang sangat sensitif, dan kami butuh waktu untuk melakukan evaluasi yang tepat," ujar legenda Juventus tersebut. 

Baca juga: Italia Gagal Lolos Piala Dunia Tiga Kali Beruntun usai Kalah Adu Penalti Lawan Bosnia

"Secara teknis, musim kompetisi berakhir pada Juni. Hingga saat itu, adalah hal yang adil bagi kami untuk tetap tersedia bagi Federasi, Presiden, dan semua pihak yang telah menaruh kepercayaan kepada kami."

Buffon menambahkan bahwa tetap berada di posisinya adalah bentuk penghormatan terhadap institusi. "Kami akan berada di sini sampai Juni, setelah itu kita akan lihat bagaimana semuanya akan ditangani secara menyeluruh."

Gravina di Bawah Tekanan Mundur

Sementara Buffon dan Gattuso memilih untuk bertahan demi stabilitas jangka pendek, posisi Gabriele Gravina sebagai orang nomor satu di FIGC semakin terpojok. Seruan agar pria berusia 72 tahun itu mengundurkan diri semakin nyaring terdengar dari kalangan politisi dan mantan pemain.

Gravina telah mengumumkan akan memanggil Dewan Federal pada pekan depan untuk membahas krisis mendalam yang melanda sepak bola Italia. 

Meskipun ia memuji semangat juang tim yang bermain dengan 10 orang selama lebih dari satu jam di Zenica, Gravina mengakui bahwa kegagalan mencapai target utama, yakni Piala Dunia, tidak bisa diabaikan begitu saja.

"Saya memahami tuntutan pengunduran diri mengingat situasi ini, tetapi ada tempat yang layak untuk membuat evaluasi tersebut, yaitu di Dewan Federal," kata Gravina.

Baca juga: Italia Gagal ke Piala Dunia, Gattuso Minta Maaf dan Bungkam Soal Masa Depannya

Mencari Nakhoda Baru untuk 2030

Keputusan Buffon dan Gattuso untuk tetap bertahan hingga Juni memberikan napas lega bagi FIGC untuk menyusun daftar calon pelatih baru tanpa harus terburu-buru. Beberapa nama besar mulai dikaitkan dengan kursi kepelatihan Italia, termasuk kemungkinan kembalinya Roberto Mancini atau penunjukan pelatih muda potensial dari Serie A.

Bagi publik Italia, periode tiga bulan ke depan akan menjadi masa penantian yang penuh kecemasan. Fokus utama kini bukan lagi sekadar siapa yang akan melatih, melainkan bagaimana merombak struktur sepak bola nasional agar tragedi serupa tidak terulang untuk keempat kalinya menuju Piala Dunia 2030.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!