Bellingham Buka Suara Soal Euro 2024: "Ada yang Salah di Luar Lapangan"
Bintang Real Madrid, Jude Bellingham, memberikan sorotan tajam terkait perjalanan Timnas Inggris yang pincang di Euro 2024. Ia mengakui bahwa budaya dan lingkungan di dalam tim tidak berjalan semestinya di balik layar selama turnamen di Jerman dua tahun lalu.
Meskipun akhirnya berhasil menembus partai final, sebelum ditumbangkan oleh tim tangguh Spanyol dengan skor 2-1, skuad asuhan Sir Gareth Southgate kala itu konsisten gagal meyakinkan publik. Mereka tampak rapuh secara struktural dan terkuras secara emosional.
Berbicara dari pusat pelatihan Inggris di Amerika Serikat menjelang laga pembuka Piala Dunia 2026 melawan Kroasia, Bellingham mengungkapkan bahwa kebuntuan taktis yang disaksikan jutaan pasang mata sebenarnya hanyalah dampak dari keretakan yang lebih dalam di internal skuad.
"Di Euro, saya rasa ada beberapa hal yang keliru di luar lapangan," ungkap Bellingham dalam penampilannya di acara Lions’ Den milik Inggris. "Saya merasa kelompok ini tidak terhubung dengan baik sebagaimana mestinya, karena beberapa alasan."
Beban Ekspektasi dan Kemenangan Tanpa Gairah
Perjalanan Inggris sepanjang Euro 2024 diwarnai paradoks yang menyakitkan: mereka terus melaju, namun gaya bermain yang disuguhkan sangat menjemukan, memicu kritik keras dari fans dan pengamat.
Baca juga: Thomas Tuchel Optimistis, Sebut Inggris Mulai Padu Jelang Piala Dunia
Bellingham menunjuk pada tekanan luar biasa karena datang sebagai salah satu favorit juara, yang justru menjadi beban psikologis dan merusak keharmonisan internal tim.
"Ekspektasi adalah bagian dari masalah tersebut," jelas Bellingham. "Kami tampil apik di 2018 dan bermain bagus di Qatar [Piala Dunia 2022]. Jadi ketika turnamen itu tiba, kami dipandang sebagai satu dari dua atau tiga tim yang wajib menang. Kami tidak bermain dengan baik, dan itu sama sekali tidak membantu. Bahkan saat kami menang, kami tidak merasakan kebahagiaan yang seharusnya."
Rasa frustrasi itu juga dirasakan sendiri oleh Bellingham. Meski gol salto spektakulernya di menit ke-95 saat melawan Slovakia di babak 16 besar menjadi salah satu momen penyelamatan paling ikonik dalam sejarah Three Lions, sang gelandang mengakui kenangan itu justru menyisakan rasa tidak nyaman.
"Saya masih ingat betul apa yang saya rasakan saat itu. Momen tersebut selalu membuat saya sedikit tidak nyaman karena situasinya sangat buruk," aku Bellingham.
"Kami tidak bermain bagus. Saya ingat saat masih kecil menonton Piala Dunia dan Euro di mana Inggris tersingkir oleh tim-tim yang seharusnya bisa kami kalahkan, dan saya berpikir, 'Wow, saya hampir menjadi bagian dari momen kelam seperti itu.' Hal itu benar-benar mengguncang sepak bola Inggris."
Persaudaraan yang Kuat di Bawah Tuchel
Diagnosis retrospektif Bellingham terhadap akhir era Southgate ini muncul di titik balik krusial bagi tim nasional. Di bawah nakhoda baru Thomas Tuchel, yang sukses membawa Inggris melewati kualifikasi dengan catatan impresif, etos kerja dan atmosfer sosial di dalam kamp latihan telah berubah drastis.
Tuchel secara eksplisit menekankan pentingnya menumbuhkan rasa persaudaraan yang kuat di dalam skuad, sebuah elemen yang menurut Bellingham sempat memudar di bawah langit kelabu Blankenhain dua tahun lalu.
Fokus utama di kamp latihan musim panas ini adalah memastikan keterikatan emosional dari seluruh 26 pemain, menegaskan bahwa kesuksesan turnamen adalah milik kolektif, bukan sekadar sebelas pemain di lapangan.
Baca juga: Tuchel Peringkatkan Bellingham, Tak Ada Jaminan Tempat Utama di Piala Dunia 2026
Budaya baru ini langsung diuji oleh persaingan internal yang sengit. Tuchel telah menciptakan persaingan langsung bertensi tinggi untuk memperebutkan nomor punggung 10 antara Bellingham dan playmaker Aston Villa yang sedang naik daun, Morgan Rogers. Namun, mencerminkan arah psikologis skuad yang baru, Bellingham menegaskan persaingan tersebut murni bersifat sportif.
“Dia orang yang hebat, dia bisa bergaul dengan siapa saja, bisa mengobrol dengan siapa saja,” kata Bellingham. “Dia bisa sedikit berisik. Kami sering berdebat yang berujung pada pertengkaran. Tapi jujur saja, kami akur seperti saudara.
“Manajer telah menjelaskan dengan sangat jelas dalam banyak kesempatan ketika dia berbicara bahwa kami bersaing untuk posisi yang sama. Saya tahu itu sedikit mereda sekarang karena dia melihat saya bermain di lebih banyak posisi dan Morgs juga bermain di lebih banyak posisi, tetapi jujur saja saya tidak punya perasaan buruk ketika dia bermain dan saya tidak bermain.”
Menatap Jalan di Depan
Menjelang laga menghadapi Kroasia pada hari Kamis (18/6), pelajaran berharga dari kegagalan di Jerman tampaknya telah tertanam kuat.
Bagi generasi emas talenta Inggris saat ini, kehebatan teknis saja terbukti tidak cukup. Untuk menyudahi dahaga trofi selama 60 tahun di tanah Amerika, membenahi apa yang terjadi di luar lapangan mungkin menjadi kepingan puzzle terakhir yang mereka butuhkan.