Kapten Tim Nasional Inggris, Harry Kane, mengungkapkan bahwa kekalahan di babak semifinal Piala Dunia 2026 dari Argentina merupakan momen tersingkir paling menyakitkan dalam karier internasionalnya. Penyerang Bayern Munich tersebut menilai penderitaan itu terasa begitu berat karena skuad The Three Lions kehilangan jatidiri dan mengkhianati prinsip permainan mereka sendiri di saat-saat paling krusial.   

Inggris sejatinya berada di jalur yang tepat menuju partai puncak setelah Anthony Gordon mencetak gol pembuka pada menit ke-55 di Atlanta. Namun, keunggulan tersebut sirna setelah Argentina membalikkan keadaan lewat gol jarak jauh Enzo Fernández dan gol penentu Lautaro Martínez di masa injury time, yang memaksa skuad asuhan Thomas Tuchel takluk 1-2.   

Penyesalan Karena Khianati Filosofi Tim

Dalam sesi wawancara menjelang laga UEFA Nations League melawan Spanyol di Wembley, Kane tak mampu menyembunyikan rasa pedih yang masih membekas pasca-kegagalan di Amerika Serikat. 

Pemain berusia 33 tahun itu menegaskan bahwa kekalahan terasa sepuluh kali lebih menyakitkan ketika sebuah tim berhenti menjadi diri sendiri dan terdistraksi dari rencana awal.

"Rasanya seperti itu bukan kami sebagai sebuah tim. Itu bukan tim yang kami inginkan dan kami janjikan sebelum laga,” kata Kane.

Baca juga: Akui Terlalu Dini, Tuchel Bela Pergantian Pemain di Semifinal Piala Dunia Inggris

“Ketika Anda keluar dari keyakinan dan prinsip permainan sendiri lalu menderita kekalahan, rasanya sepuluh kali lebih buruk daripada kalah saat bertarung dengan cara Anda sendiri. Jika kami kalah dalam gaya bermain kami, Anda bisa menerimanya, menegakkan kepala, dan melangkah maju. Ini berat, dan akan tetap berat.”

Kane bahkan membandingkan rasa sakit tersebut dengan momen ketika ia gagal mengeksekusi penalti krusial melawan Prancis pada perempat final Piala Dunia 2022 di Qatar. Menurut sang kapten, kekalahan di Atlanta terasa jauh lebih menyiksa akibat cara timnya kehilangan kendali permainan setelah unggul.   

Memilih Absen Memantau Laga Final

Luka mendalam akibat kegagalan melangkah ke partai final di MetLife Stadium membuat Kane enggan menyaksikan laga puncak antara Spanyol dan Argentina. 

Alih-alih menonton pertandingan tersebut dari layar kaca, Kane memilih untuk mengalihkan pikirannya dengan bermain golf di New York.   

“Saya sangat mencintai Inggris, terutama karena saya telah menjalani perjalanan panjang ini... pernah tampil di final maupun semifinal, dan begitu dekat dengan keberhasilan. Setiap kegagalan meninggalkan rasa sakit yang berbeda, dan yang satu ini, sudah pasti, terasa jauh lebih menyakitkan dibandingkan yang lainnya,” tambah Kane.

Baca juga: Harry Kane Akui Taktik Parkir Bus Inggris Berujung Petaka Lawan Argentina

“Tapi Anda harus memulihkan diri sembari terus melangkah. Dalam sepak bola, tidak ada banyak waktu. Tahu-tahu, pertandingan berikutnya sudah tiba. Ini adalah keseimbangan yang sulit, karena di satu sisi Anda berusaha bangkit dan belajar dari pengalaman itu, namun di sisi lain kami akan menghadapi juara dunia pada hari Sabtu—dan itu adalah pertandingan yang besar serta penting.”

Evaluasi Menjelang Laga Kontra Spanyol

Jelang berkumpulnya kembali skuad Inggris di St. George's Park untuk mengarungi UEFA Nations League, Kane mendesak rekan-rekannya dan jajaran pelatih untuk melakukan evaluasi mendalam terkait kegagalan berulang saat berhadapan dengan negara-negara elite dunia di fase gugur.

“Bagaimana kita bisa tampil lebih baik di momen-momen tersebut? Bagaimana kita bisa lebih menunjukkan jati diri kita yang sebenarnya pada saat-saat itu? Selama babak kualifikasi dan berbagai pertandingan turnamen, kita bermain dengan intensitas tertentu dan menampilkan permainan yang bagus,” ungkapnya.

“Namun, hal itu belum sepenuhnya berhasil kita lakukan di fase-fase akhir turnamen saat menghadapi negara-negara yang lebih besar dan lebih tangguh.

“Mungkin ini disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor. Bisa jadi soal kepribadian atau mentalitas. Bisa juga terkait arah permainan dan bagaimana kita ingin bermain dalam laga-laga tersebut. Ini adalah hal-hal yang perlu kita diskusikan bersama sebagai sebuah tim.”

Inggris bakal memulai babak baru di bawah arahan Thomas Tuchel dengan menjamu juara dunia Spanyol di Stadion Wembley, di mana Kane bertekad menjadikan Nations League sebagai batu loncatan awal menuju Euro 2028.   

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!